Tanpa Disadari, Kita juga Membajak Buku

Tanpa Disadari, Kita juga Membajak Buku

Tanpa Disadari, Kita juga Membajak Buku

Tanpa Disadari, Kita juga Membajak BukuPernahkah kalian melihat kasus pembajakan buku? Yah bisa dipastikan hampir semuanya pernah dong, malahan di era zaman sekarang ini tiap tahunnya terdapat kasus pembajakan, bahkan hal itu dilakukan secara terang-terangan seperti dijual secara online.


Sayangnya hingga sekarang ini kasus pembajakan dipandang tak lebih sebagai masalah kriminalitas yang sepele, padahal kasus pembajakan buku bukan sekedar merugikan ekonomi per orangan, tetapi merugikan banyak pihak karena dalam terbitnya satu judul buku, ada banyak sekali pihak yang terlibat di perputaran ekonominya. Mulai dari penulis, editor, pemeriksa aksara, perancang perwajahan isi, perancang sampul, buruh cetak, buruh penata kertas hasil cetakan, operator mesin banding atau jilid, operator mesin potong kertas, operator plastic wrapping, karyawan di gudang perusahaan distribusi, para sopir yang mengirimkan buku ke ratusan toko, hingga karyawan toko-toko buku dan segenap reseller

Jadi, jika berpikir membeli 1 buku bajakan hanya merugikan sedikit orang itu salah tentunya, dan juga ini merupakan masalah budaya yang harus diperbaiki!
Bahkan, sekarang ini juga banyak istilah eufemisme (ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar) terhadap tindakan pembajakan. Mereka menyebut hasil “bajakan” mereka dengan istilah “repro” yang di mana kata tersebut adalah singkatan dari reproduksi (diproduksi ulang).

Sehingga orang-orang berpikiran bahwa produk yang mereka beli bukanlah bajakan. Lazimnya istilah reproduksi digunakan untuk aktivitas penciptaan ulang benda-benda yang telah tua dan tidak diproduksi massal lagi, namun berbeda dengan pembajakan buku ini, buku yang di”repro” itu masih dicetak massal, dijual dengan legal, dan mudah didapatkan di mana saja. 


Terus jika begitu kenapa masih ada saja yang pakai istilah “repro” ini? Tentunya untuk menutup-nutupi kepahitan tindakan sebenarnya.


Kita ambil contoh kejadian lainnya yang belum lama ini terjadi di Yogyakarta.
Dikutip dari Tirto,
Hisworo Banuarli, salah satu anggota Konsorsium Penerbit Jogja (KPJ) sekaligus pelapor pembajakan buku, bercerita soal masifnya pembajakan buku. Menurut dia, pembajakan ini sudah seperti industri penerbitan resmi.

"Pembajakan ini sudah seperti industri. Polisi harus bergerak untuk mengungkapkannya. Kami sudah tak bisa menoleransi, karena pembajakan ini sudah terang-terangan beberapa tahun terakhir," kata Hino.

Pada kejadian tersebut juga terdapat kejadian miris, yaitu buku bajakannya lebih dahulu beredar sedangkan buku aslinya saja belum dirilis dan polisi kurang begitu ­­­menggubris masalah ini...yah sangat disayangkan bukan? Padahal sudah ada pasalnya juga lho tentang Hak Cipta atau kekayaan Hak Intelektual pada UU Nomor 28 tahun 2014
Ini bukti bahwa Indonesia masih memiliki kebudayaan buruk dan tingkat kesadaran rendah yang akan hal ini.

Dalam Pasal 1 ayat 23 UU 28/2014 dituliskan definisi pembajakan adalah "penggandaan ciptaan secara tak sah dan pendistribusian barang hasil penggandaan secara luas untuk memperoleh keuntungan ekonomi."

Nah, jika kamu pernah melakukan fotokopi pada beberapa bagian atau bahkan seluruh buku tanpa perizinan dari penerbit, contohnya adalah buku paket mata pelajaran di sekolah, maka bisa dibilang kamu ini telah melakukan tindakan pembajakan juga guysSebab, biasanya di halaman awal terdapat informasi tentang hak cipta buku tersebut.

foto halaman ketentuan hak cipta dalam sebuah buku


Oleh karena itu, ada baiknya jika kita membaca halaman awal sebuah buku atau bagian yang berisi tentang ketentuan hak ciptanya untuk mengantisipasi hal ini terjadi di kemudian hari.

Dan jika ingin mendukung penulis atau penerbit buku resminya secara online, kalian dapat melakukan pembelian di situs resmi atau online shop yang telah disediakan dan terpercaya misalnya seperti Google Play Book ataupun Mizanstore 😀. Terimakasih

Anda mungkin menyukai postingan ini